Jumat, 31 Januari 2014

Gothic Stage Makeup Inspired Look

Halo!


Mumpung sedang sendirian di rumah, saya asyik bereksperimen dengan muka. Terinspirasi dari makeup panggung gothic band favorit saya, Blutengel. Mereka band dari Jerman. Blutengel artinya blood angel.

Saya suka banget dengan gaya makeup mereka, apalagi lagu-lagunya. Lagunya pasti terdengar asing untuk kamu yang nggak terbiasa dengerin lagu gothic. Temen-temen saya aja heran, kata mereka musiknya aneh. Saya maklum mereka bilang selera musik saya aneh, mereka kan sukanya lagu-lagu Taylor Swift, One Direction, Bruno Mars, dsb. Yakin deh, cuma saya yang dengerin musik gothic di universitas ini, hahaha..




Oke deh, back to makeup. Blogger lainnya (beauty blogger pada umumnya) pasti pernah deh nyobain FOTD dengan gothic makeup. Mau itu jenisnya vampire look, death rock look, gothic lolita, dsb. Yang menjadi ciri khas gothic makeup memang muka super pucat, eyeliner hitam, smokey eyes, dan lipstik warna gelap. Ya pokoknya persih kayak makeup panggung band-band gothic begitu.


Biasanya kan saya dandan gothic yang tipis buat sehari-hari, yang tidak terlalu mencolok. Saya memang goth, tapi kan saya nggak mau tampil terlalu heboh saat berkeliaran di jalan, bisa-bisa saya diangkut satpol PP atau diringkus satpam. Ini Indonesia, saudara-saudara.. di mana makeup gothic amat sangat dipandang negatif oleh masyarakat. Nah, kali ini saya mau mencoba gothic makeup ala Blutengel. Ini foto-foto mereka


Chris Pohl Meu Amor Eterno   
Chris Pohl, satu-satunya personel cowok
before & after makeup

 
Constance Rudert
kiri : makeup natural
kanan : gothic makeup

 
Ulrike Goldmann
atas : makeup natural
bawah : gothic makeup

Sebenarnya ada beberapa personel lain, karena Blutengel ini sering gonta-ganti personel. Tapi hanya orang-orang ini yang ada foto makeup naturalnya. Saya yakin kalian semua pasti lebih suka melihat wajah mereka dalam makeup natural, hehehe... Tapi menurut saya mereka jauh lebih keren & berkarakter dengan gothic makeup, saya suka banget!

Dan inilah hasil eksperimen di muka saya sendiri..


Btw saya lagi belajar shading hidung, maafkan kalo hasilnya amburadul


Tanpa shading hidung saya keliatan gede banget, hihi..

Ahh..nggak ada mirip-miripnya dengan Pohl, Rudert atau Goldmann. Makeupnya juga kurang garang. Ini sih bisa dipakai untuk sehari-hari, asalkan warna lipstiknya diganti & bedaknya nggak setebal itu. Tapi ya sudahlah, maklum saya masih newbie..

Ini adonan yang saya pakai. Bener-bener seadanya, nggak menunjang makeup panggung sama sekali, hihi.. Seandainya dipake manggung pasti cepet luntur. Harusnya pake face painting atau minimal foundation yang staying powernya super. Saya juga nggak punya lipstik warna hitam, jadi cuma pake lipstik merah yang dicampur eyeshadow cream hitam. Ada yang tahu di mana bisa beli lipstik hitam & apa mereknya?

makeup seadanya, mengkaryakan apa yang ada..

Face
  • primer + moisturizer : Home Snow Vanishing Cream
  • foundation : bedak Fanbo Rose 68 yang diaplikasikan dengan spons basah. Di blog lain, saya baca bedak padat (pancake) Fanbo nggak bisa diaplikasikan pake spons basah karena jadinya cakey & nggak nempel di kulit. Untungnya di kulit saya jadinya bagus-bagus saja, bisa nempel & tidak cakey*hore!*
  • bedak : Marck's supaya tidak mengkilap, tumpuk dengan bedak bayi (My Baby) supaya warnanya putih pucat. Katanya sih pake bedak bayi di muka itu tidak baik, tapi saya sering pake kalo sedang bosan dengan Marck's, soalnya wanginya enak sih..
  • shading : pakai eyeshadow Pixy yang sorrel brown
  • blush : Mentholatum Face on Face yang natural glow. Warnanya oranye-peach. Dipakai tipis-tipis saja supaya hasil makeup tetap pucat.
Eyes
  • eyeliner : Pixy eyeliner pencil (black)
  • eyebrow : Fanbo eyebrow pencil (black)
  • eyeshadow : Viva cream eyeshadow (hitam), Mustika Puteri Peachberry Eyeshadow & Lipstick Pallete (pakai yang coklat & pink), Pixy (sorrel brown)

Lips 
  • Wardah long lasting lipstik (Red Velvet)
  • Viva cream eyeshadow (hitam)
  • Trisia moisture lipstick (cherry red)
Maaf nggak ada foto before makeup, lupa..
Tapi ada bonus gambar makeup in progress
Jidat selebar lapangan golf (itulah gunanya poni, hihihi..)
Cuma mau nunjukin alisnya, saya belum bisa menggambar alis yang rapi nih.. 

Sampai jumpa di post selanjutnya!





Selasa, 28 Januari 2014

Kosmetik itu sebetulnya tidak perlu mahal, asalkan..

Halo! Kali ini saya bukan mau mereview kosmetik, cuma pingin cuap-cuap :D


Saya ini termasuk golongan mahasiswa ngirit. Uang saku dari ortu harus dihemat-hemat. Walaupun dapat beasiswa, saya nggak pernah lihat uangnya langsung, beasiswanya dialokasikan buat bayar SPP doang & sisanya entah diapakan oleh pejabat kampus *eh kenapa jadi nyambung kesini?*

Bukannya saya pelit, tapi memang dompet saya tipis, jadi harus..


Makanya itu untuk dandan, saya berusaha sengirit-ngiritnya. Bisa dilihat dari blog saya ini, hampir semua produk yang direview adalah produk yang harganya terjangkau, terutama produk lokal. Beberapa adalah produk yang bikin ngeri orang-orang saking murahnya, misalnya krim Kelly, Home Snow Vanishing Cream, bedak Fanbo, lipstik Red-A. Saya sering ketawa sendiri jika melihat statistik blog saya. Kata kunci penelusurannya kayak gini : apakah krim kelly aman, bahaya memakai krim kelly, apakah home snow vanishing cream gajebo, bedak fanbo bahaya. Yeah.. sepertinya mereka memang punya reputasi miring di masyarakat.

   
Brand yang murah meriah tapi cocok di saya

Tapi saya sudah terlanjur cocok nih sama yang murah-murah. Sebelum beli saya selalu browsing dengan seksama, terutama masalah ingredients & nomor registrasi BPOM. Jika saya yakin aman, legal & ingredientsnya tidak menyebabkan reaksi negatif di kulit saya, saya pasti beli meskipun harganya ngeri murahnya. Jujur aja , soal ingredients saya tidak gampang percaya setelah membaca suatu blog *Anda juga boleh tidak percaya pada blog saya*. 

Saya lebih suka browsing di website yang sudah terpercaya, yang memang dibuat oleh ahli kulit. Saya sering browsing tentang ingredients di website Paula's Choice, produsen skincare ternama. Saya sih nggak pernah pake produk Paula's Choice, tapi boleh kan yaa.. main & tanya-tanya ke web-nya. Kita tinggal ketik aja  nama ingredient yang dicari, lalu klik search, nanti akan muncul keterangan lengkap. Ini link-nya Paula's Choice Cosmetic Ingredients Dictionary. Sangat recommended buat kamu yang banyak disesatkan oleh mitos seputar cosmetic ingredients. Misalnya produk lokal yang murah mengandung paraben sebagai pengawet. Kata orang-orang, paraben itu berbahaya padahal kenyataannya enggak begitu. Website Paula's Choice bahkan mencantumkan link mengenai jurnal hasil penelitian tentang paraben, lengkap deh pokoknya.


ini dia tampilannya

Saat ngumpul sama teman-teman cewek, kita sering membahas soal kosmetik yang dipakai. Teman-teman saya banyak yang tanya "Lintang kok pake lipstiknya bagus?" "Kok lipstikmu awet? Padahal kamu habis makan" "Pake lipstik apa?Hasilnya kok rata & nggak menggumpal?" atau "Kamu pake alas bedak apa sih? Bedaknya apa kok bisa tahan seharian & nggak kucel?" 

Hahaa.. mereka sering kaget kalau saya menjawab merek apa yang saya pake. Saya bilang, saya pake lipstik Oriflame atau Red-A. Reaksinya : "Masaa? Aku juga punya lipstik Oriflame tapi nggak seawet itu" "Emang lipstik Red-A bagus yaa? Bentuknya gitu doang" Atau shock saat saya bilang bedak saya cuma Marck's tabur atau Fanbo jadul. Reaksinya : "Aku juga pake Marck's tapi hasilnya nggak kayak gitu" "Aku pake bedak padat Oriflame yang 100ribuan tapi juga cepet ilang kok"

Saudara-saudara, sebetulnya makeup dengan harga berapapun tidak menjadi masalah. Makeup murah kalo diaplikasikan dengan tepat hasilnya pun akan bagus, tidak terlihat seperti pake makeup murahan. Makeup mahal kalo nggak bisa pakenya justru akan terlihat menor, nggak awet & kualitasnya terasa tidak sebanding dengan harganya.

Hampir semua review yang saya baca tentang makeup murah bilang bahwa lipstik merek X punya staying power yang poor, bedak merek Y oil controlnya payah & nggak awet, eyeliner pencil merek Z gampang smudge dll. Akhirnya semua bilang : "Maklum, harganya cuma segitu." Memang benar, tapi itu dengan pemakaian biasa. Kalo dengan pemakaian yang luar biasa *bahasanya..* pasti hasilnya akan lebih bagus, lebih awet, dll.

Ini adalah cara saya menyulap makeup murah dengan kualitas so-so menjadi makeup yang kualitasnya luar biasa :


Lipstik 

Saya tidak pernah pake lipstik hanya 1 layer. Lipstik merek apapun (baik lipstik glossy maupun matte). Saya selalu pake setebal mungkin di layer pertama, lalu di-blot pake tissue, pake lagi tipis-tipis. Untuk lipstik glossy (misalnya Red-A yang harganya sensasional murahnya, cuma 10-11ribuan), proses blotting dengan tissue saya ulangi sampai 3x. Makanya lipstik saya cepat habis kayak dimakan aja.

Repot? Iya lah.. tapi hasilnya warna lipstik akan awet, teksturnya merata di bibir, nggak akan menggumpal atau mbleber. Bahkan warnanya tetap stay on setelah saya makan & minum, nggak hilang sama sekali. Nggak perlu touch up, bikin iri teman-teman, hihihi...

Bedak 
Saya paling anti pake alas bedak macam foundation & BB cream. Saya punya foundation sebiji doang (covering cream Viva) tapi jarang banget saya pake. Ada triknya lho supaya bedak murah saya tahan lama. Saya pake pelembab Home Snow Vanishing Cream (bahannya bebas minyak) sebagai primer, setelah itu pake sunblock Parasol yang ungu sebagai alas bedak. Percaya deh, Parasol yang ungu itu lebih ramah di kulit daripada yang oranye. Yang oranye terasa lebih greasy, susah meresap, dan lengket, bikin muka gerah + bikin white cast. Kalo yang ungu lebih ringan & gampang meresap (tapi tidak ada tulisan berapa SPF-nya). 

 
Eh, ternyata yang ungu lebih enak lho..nggak greasy

Setelah Parasol, saya kasih vanishing cream lagi tipis-tipis. Saya memang mengabaikan cara makeup yang benar, yaitu sunblock adalah skincare terakhir yang dipakai sebelum makeup. Soalnya vanishing cream itu benar-benar anti kilap. Meski kulit saya tipenya kering, pemakaian makeup yang tidak tepat juga masih bisa bikin kulit saya mengkilap seperti berminyak (kelihatan mengkilap, tapi rasanya kulit dehidrasi). Setelah itu kasih deh bedak. Paling enak ya bedak Marck's, ringan banget rasanya kayak nggak pake bedak. Tapi saya juga suka pake Fanbo karena hasilnya matte tahan lama.

Dehydrated Skin
Kulit saya kering, tapi kalo salah makeup bisa jadi begitu
Oily di T-zone + kelihatan garis-garis kerut (makeupnya kayak pecah gitu) dan gampang breakout

Eyeliner Pencil
Akhir-akhir ini lagi suka pake eyeliner pencil. Meskipun punya eyeliner cair, pensil tetap favorit saya karena gampang dibersihkan. Eyeliner pencil yang saya punya adalah Pixy (hitam) harga 25 ribu & Viva (coklat) harga 18 ribuan. Kapan-kapan saya bikin reviewnya deh. Banyak orang mengeluhkan betapa parahnya daya tahan eyeliner pencil (apalagi yang Pixy, katanya smudge parah). 

Sebenarnya kelopak mata saya itu oily, meski area di sudut & bawah mata itu kering. Saya punya trik untuk mengakalinya. Saya selalu pake eye base gel dari Viva (murah, cuma 10 ribu). Setelah agak meresap (lembab, belum benar-benar kering), saya pake eyeliner pencil. Setelah itu diblend dengan eyeliner brush mengikuti garis yang sudah dibuat. Buat garis dengan eyeshadow yang warnanya sama. Misalnya saya punya eyeshadow cream hitam dari Viva, atau eyeshadow powder coklat dari Pixy. Hasilnya garis yang nggak tegas. Untuk menegaskan, tambah eyeliner pencil lagi. Jadinya mantap, eyeliner yang kereng & tahan lama. Ada yang mengira saya pake eyeliner gel, padahal sumpah itu cuma eyeliner pencil+eyeshadow.

Eyeliner brush untuk blending eyeliner pencil
Bisa juga dipake untuk menjadikan eyeshadow cream/powder sebagai eyeliner
(punya saya udah buluk, jadi boleh yaa.. saya ambil gambar dari google)

Kedengarannya rempong ya.. Padahal saya kalo dandan cuma butuh waktu 10 menitan. Nggak terlalu lama kan, hihihi.. 


sore-sore di lab kampus
foto dulu ah, kan muka saya belum kucel meski nggak touch up.. hihihi

Bye.. semuanya!

Selasa, 21 Januari 2014

Sariayu Pemulas Bibir Cindai 1

Halo, apa kabar?


Kamu termasuk pecinta lipstik warna natural, terutama dari merek lokal? Kalo iya, kamu harus baca yang satu ini, hehe..

Lipstik Sariayu yang ini sepertinya sudah kalah pamor dibandingkan lipstik Sariayu yang trend warna. Dulu ibu saya sering pakai lipstik Sariayu yang kemasannya begini, waktu saya masih TK sampai SD. Saya pikir lipstik yang varian ini sudah nggak diproduksi, eh ternyata masih ada (saya beli hampir 2 bulan yang lalu). Ini dia nih, Sariayu Cindai 1.. 


Packagingnya simpel banget kan..
Nggak seperti lipstik Sariayu sekarang yang ada motif tradisionalnya

Warnanya peach brown

  • Harga  : Rp 24.000 (netto 4 gram)
  • Packaging : simpel & kurang elegan. Bahannya plastik tebal, tapi agak rapuh. Tutupnya agak susah dibuka, tapi harus sabar, jangan dibanting ya..nanti pecah
  • Tekstur : creamy, banyak kandungan moisturizernya sehingga tidak membuat bibir kering. Lipstik Sariayu yang ini lebih creamy daripada lipstik Sariayu yang trend warna. Gampang diaplikasikan di bibir & buildable, tidak menggumpal
  • Warna : warnanya natural, kelihatan menyatu di bibir. Jadi seperti pakai lipbalm. Efeknya seperti MLBB (my lips but better)
  • Aroma & flavor : seperti bubble gum + coklat, gimana ya mendeskripsikannya.. pokoknya wanginya manis. Saya kurang suka dengan lipstik yang aromanya kuat (meskipun aromanya enak). Jika terjilat tidak ada rasanya
  • Finish : satin finish
  • Pigmentation  : kurang pigmented, perlu berlayer-layer untuk bisa memunculkan warnanya. Lipstik Sariayu yang sekarang (trend warna) kayaknya lebih pigmented deh 
  • Coverage : jika dipakai 3 layer bisa menutupi warna bibir & garis-garis halus dengan baik
  • Staying power : poor, hanya untuk ngobrol (tanpa makan & minum) hanya tahan 2-3 jam, setelah itu warnanya nggak terlihat lagi meskipun efek melembabkannya masih terasa
  • Ingredients : octyl dodecanol, octyl palmitate, polybutene, synthestic wax, hydrogenated microcrystalline wax, candelila wax, lecithin, castor seed oil, sweet almond oil, phenyl trimethicone, lanolin, flavor, oleyl/cetyl alcohol, carnauba wax, octyl methoxycinnamate, VP/hexadecane copolymer, cetyl ricinoleate, cetyl alcohol, oleyl alcohol, C10-30 bisabolol, palm oil, polyglyceryl-2 dipolyhtdroxystearate, beeswax, cetearyl glucoside, cetearyl alcohol, phytosqualane, jojoba seed oil, Irvingia gabonensis kernel butter, avocado oil, stearalkonium hectorite, lauroyl lysine, polymethyl methacrylate, ethylrne/acrylic acid copolymer, retinyl palmitate, peanut oil, linoleic acid, linolenic acid, tocopherol, tocopheryl acetate, BHT, propylparaben. cyclomethicone, acrylates copolymer, zinc stearate, stearyl glycyrrhetinate

Ingredientsnya bagus nih. Lipstik ini mengandung sunscreen (octyl methoxycinnamate), tapi saya sih lebih merasa tenang kalo pake lipbalm lagi yang mengandung SPF, karena kegiatan saya sering di luar ruangan. Lipstik ini juga mengandung banyak moisturizer (aneka minyak tumbuhan), vitamin A (retinyl palmitate), vitamin E (tocopherol & tocopheryl acetate). Ada anti iritasinya juga (bisabolol). Squalane yang dipakai berasal dari tumbuhan (=phytosqualane), bukan dari lemak hewan, kan Sariayu sudah punya logo halal dari MUI. Oya, di kemasannya tertulis dermatologically tested & free animal testing. 

Ini swatch nya..
di tangan

di bibir, perlu 3 swipes untuk memunculkan warnanya

Saya suka sih warnanya, menurut saya cocok-cocok aja. Tapi waktu saya ke kampus pakai ini, beberapa temen (terutama cowok) komentar : "Kamu sakit ya? Kok pucat?" "Wajahmu kok keliatan suram?" "Kalo sakit istirahat aja, Lintang."

Err.. wajah saya dibilang suram. Banyak temen saya yang cewek pake lipstik nude ke kampus tapi nggak dikomentari apa-apa. Nggak papa sih, masih mending, daripada pas saya ke apotik pake lipstik ini, penjaganya manggil saya "Bu". Padahal seminggu sebelumnya saya ke sana pake lipstik yang agak merah, dia manggil "Mbak". Emangnya lipstik warna begini bikin saya keliatan kayak ibu-ibu? Saya juga bingung.. Apa mungkin saya memang lebih cocok pake lipstik yang warnanya cetar, hahaha..

Tapi udah dibeli nih, mubazir kan kalo nggak dipake. Makanya sering saya campur dengan lipstik merah biar kelihatan lebih segar. 

1. bare lips
2. Sariayu Cindai 1 (diaplikasikan sebanyak 3 layer)
3. Sariayu Cindai 1 + Red-A no. 623 (warna merah darah)

(+) teksturnya buildable & creamy, tidak menggumpal di bibir & mudah diaplikasikan
(+) melembabkan bibir
(+) warnanya kelihatan menyatu dengan bibir (cocok nih untuk yang baru coba-coba pakai lipstik)
(+) mengandung sunscreen
(+) wanginya lucu, manis kayak bubble gum + chocolate. Tapi saya sendiri kurang suka dengan lipstik yang terlalu wangi (terus ngapain ditaruh di point plus, hehehe..)
(+) harganya affordable

(-) kemasannya rapuh & terlihat biasa aja, tutupnya agak susah dibuka
(-) agak langka. Mungkin hanya tersedia di counter-counter Sariayu. Nggak ada di drugstore (kayak Guardian) atau di swalayan kayak Giant, apalagi di toko kosmetik yang kecil 

Rate : 8/10
Repurchase ? No. Ini aja jarang dipakai

Bye bye..



Kamis, 16 Januari 2014

Himalaya Herbals Clear Complexion Whitening Face Wash

Hi, readers!
I'm crazy for face wash products which are soap-free since my skin is typically dry. I've tried face wash from some brands & I'm still in journey to find the one which is very suitable for me. 


I bought Himalaya Herbals face wash because it claims "free from SLS/SLES". Those are detergent which dry out my skin & left rigid feel on my face. Here is the product :


It's manufactured by The Himalaya Drug Company, Bangalore - India



It also claims "free from parabens & phtalates". Why should we avoid those ingredients? Here is the explanation :

  • SLS (Sodium Lauryl Sulfate) & SLES (Sodium Laureth Sulfate) : both have function as surfactant (foaming agent) & emulsifier (to stabilize the emulsion). SLS is one of the most irritating ingredients. It can cause allergic or sensitizing reaction in amount of 2% to 5% (link)
  • Parabens : a common preservative agent used in cosmetics. It has bad reputation as cancer trigger. From a research in 2004, it's known that parabens were found in breast cancer cells, but there's no proof that parabens is the cause of cancer (link). However, paraben paranoia becomes an opportunity for cosmetics manufacturers to market their products.
  • Phtalates : plasticizer agents which give flexibility to rubber, plastics, or resin. They're used in cosmetics as solubilizer, plasticizer, and denaturant (give bitter taste to the product). A study conducted in 2006 - 2008 (link) indicated that 130 of  482 women gave birth before the normal time & they had higher level of phtalates in their bodies. But there's no proof that phtalates were the main cause of premature birth, further research is needed to clarify & confirm it.
Personally, I don't have paranoia of parabens & phtalates, hehe.. but I do avoid SLS/SLES. I can't use facial foam which is really rich in foam, it irritates my dry skin.

Ok, this is my review :
  • Price : IDR 11,500 (50 ml). It's quite affordable
  • Texture : between gel & cream (hmm, how to describe it?). It obtains a little foam when blended with water
 

  • Packaging : simple with flip-top, it looks like common drugstore product. Of course, Himalaya Herbals is manufactured by a drug company.  I like its transparent tube, it enables us to see the content. 
flip top
  • Scent : it has strong floral scent. I usually don't like skincare with a lot of fragrance. 
  • When I use it : Be sure you close your eyes while washing your face. My eyes got so red after using this face wash. It might caused by the menthol or fragrance. I prefer tear free products.
this product is irritating my eyes, hmm..that's not a good news
  • After rinse : it doesn't dry out my skin. There's no rigid feel after using this face wash. It leaves cool sensation from menthol. I don't really like menthol in skincare, it feels weird.
  • Whitening effect : I've used this face wash in a week, and I don't really notice it. Whitening effect is not the one I expect from this product. Actually I bought the whitening one because there were only 2 variants in the store (whitening & oil control). I couldn't possibly buy the oil control variant, it would dry out my skin.
  • Ingredients : aqua, ammonium, lauryl sulfate, cocamidopropyl betaine, sodium cocoyl glutamate, & disodium cocoyl glutamate, glycol distearate, coco-glucoside & glycol distearate & glycerin, glycerin, acrylates/C10 - 30 alkyl acrylate crosspolymer, PEG-150 distearate, cetyl alcohol, fragrance, phenoxyethanol, coco-glucoside & glyceryl oleate, sodium hydroxide, Crocus sativus flower extract (saffron),  Cucumis sativus (cucumber) extract, citric acid, menthyl lactate, methylchloroisothiazolinone & methylisothiazolinone, disodium EDTA, tocopheryl acetate, Punica granatum (pomegranate) extract, menthol, Glycyrrhiza glabra (licorice) root extract, Vateria indica bark (white dammar) extract, Cl.15985
(+) Soap free, doesn't dry out my skin
(+) Doesn't break me out
(+) Simple packaging
(+) Affordable price

(-) The scent is too strong
(-) It contains menthol which irritating my eyes

Recommended for :
  • Dry / normal-dry skin
  • People who tend to avoid SLS/SLES, parabens & phtalates, but can tolerate fragrance & menthol (actually fragrance & menthol are irritants too)
  • People who like whitening face wash
Not recommended for :
  • People who are sensitive to fragrance & menthol
  • Acne prone skin (because it contains whitening & some irritant ingredient like menthol, perfume, sodium hydroxide). I've read some reviews from bloggers who have oily & acne prone skin, they said this face wash couldn't improve their skin condition.
Rate : 6/10
Repurchase ? No 

Bye bye..

Senin, 13 Januari 2014

Actually this is not a beauty blog

Hai..
Membaca judulnya, mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa saya bilang blog ini bukan beauty blog. Jelas-jelas isinya review kosmetik, kan?

Ya, isinya memang review kosmetik. Yang saya tahu, beauty blog itu biasanya ada review produk kosmetik, tutorial, tips-tips kecantikan,  FOTD, EOTD, OOTD dll. 

Lalu kenapa saya bilang ini bukan beauty blog? Saya merasa, beauty blogger itu biasanya punya banyak penggemar. Saya menulis blog ini dengan diam-diam, bahkan blog ini tidak bisa difollow. Tiap kali saya blogwalking ke beauty blog yang lain, pasti disana ramai komentar dari sesama beauty blogger. Mereka saling follow, dan pastinya punya penggemar tetap.

beauty blog is something like that

Apakah saya tidak ingin punya follower & teman sesama blogger? Hmm.. sebenarnya tidak. Saya sudah cukup senang jika ada orang yang mau membaca blog ini. Saya ini jujur aja bukan orang yang sosial. Saya bahkan tidak punya akun social media lho, hahaha.. Boleh saja orang menganggap saya sombong alias arogan, tapi saya memang suka menyendiri, tidak suka diusik dan di-stalking. Memang saya bukan orang yang menyenangkan untuk dijadikan teman, hehe..

Are followers so important?

Saya menulis blog tentang review kosmetik karena saya sendiri juga biasanya selalu mencari review dari orang lain sebelum membeli suatu produk. Review itu penting, itu adalah buyer's guide. Karena itu sebisa mungkin saya selalu menulis dengan objektif. Semua produk yang saya review ada plus dan minusnya, walaupun misalnya itu produk favorit saya yang menurut saya tidak ada nilai minusnya. 
Actually no..

that's why I want to be a guide for others

Beauty blog *terutama di Indonesia* biasanya ditulis oleh "kaum netral". Maksudnya, mereka yang penampilannya normal. Mereka berpenampilan wajar di dunia nyata. 


beauty bloggers are usually normal & elegant

Jadi apakah saya tidak wajar? Ya, saya adalah seorang goth. Dandanan gothic bukan hanya untuk makeup look untuk dipajang di blog, tapi itu dandanan saya sehari-hari. Adakah beauty blogger yang murni goth? Saya yakin jarang. Realistis saja, goth itu punya reputasi miring di masyarakat, betul kan? Goth dianggap jelek, norak, lebay, suka cari sensasi. Sudah sering orang-orang menatap saya dengan pandangan meremehkan, ingin tahu, atau takut. Tapi saya anggap itu tatapan kagum *anggap saja demikian* hehee..

 
this is me

 

Ini bukan beauty blog karena ditulis oleh seseorang yang tidak beautiful. Hihihi.. kedengarannya saya insecure ya? Ya, memang saya insecure karena saya pernah masuk list cewek terjelek di kelas waktu saya masih sekolah. Saya bahkan tidak percaya jika ada quote "all girls are beautiful". Dalam konteks outer beauty (physical beauty) itu nggak benar. Seseorang akan terlihat cantik jika dibandingkan dengan orang-orang yang kurang cantik. Saya tidak sedang ngomongin tentang inner beauty lho ya.. jangan salah paham.

the quote is said to comfort us. 
But it's true if it involves inner beauty

EVERYBODY KNOWS..
 
The hamster looks cute because the rat is ugly & disgusting

  
the cat on the left looks pretty because you see ugly cat on the right

I'm not a beautiful girl, but at least I'm more beautiful than I used to be, and it can make me smile. I might sound insecure but in fact I'm confident with how I look.

I was an ugly duckling
I'm thankful for everything I have now

Saya kadang jengkel jika ada beauty blogger yang tidak bersyukur dengan fisiknya, tapi mencoba ikhlas dengan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Misalkan begini, dia punya problem seperti jerawat yang muncul terus-menerus. Dia banyak mengeluh di blognya, sambil menceritakan perjuangannya melawan jerawat. Sebenarnya berguna juga lho, dia bisa membagi referensi produk2 untuk mengatasi problem jerawat. Namun pada akhirnya dia memberi link tentang kasus seseorang yang mengalami jerawat lebih parah darinya. Lalu diapun bersyukur dengan keadaannya. Ah, menurut saya ini tidak bijaksana. Kenapa membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang lebih malang nasibnya? Saya sering baca beauty blog yang isinya semacam itu. Bukan hanya blog Indonesia saja, tapi juga blog luar. Saya pikir itu adalah cara yang kejam untuk bersyukur.


Saya yakin deh, sedikit banget yang mau membaca post ini. Isinya memang nggak penting kok, hehehe.. Tapi makasih buat kalian yang sudah menyempatkan diri membaca ini.

I'm a dark creature, but I'm happy & I will never change it.