Jumat, 30 Mei 2014

DIY Seaweed Mattifying Moisturizer Gel

Hai hai hai..


Ada yang suka es campur rumput laut? Saya sukaaa banget! Rumput laut nggak hanya sehat untuk dimakan, tapi juga bagus untuk dijadikan kosmetik. Ada yang pernah dengar Gizi Super Cream? Yang semboyannya "Secret of Seaweed" itu.. Teman-teman yang pernah pakai tentu baca deskripsi di brosurnya, mengenai keajaiban rumput laut untuk kulit. Dulu saya pengguna GSC, saya terkesan membaca tentang pengumpul rumput laut yang tangan dan kakinya tetap halus meskipun pekerjaannya kasar.

Iseng-iseng saya bikin moisturizer gel dari rumput laut hari Senin lalu, tapi baru sempat saya tulis sekarang. Bukan hanya baru sempat sih, tapi juga saya tes hasilnya dulu. Human testing nih ceritanya, tapi saya sendiri kok yang jadi objek percobaan. Setelah beberapa hari, tidak ada reaksi negatif di kulit saya.. malah saya suka sekali efeknya. Ternyata mattifying alias memberi efek matte seperti memakai bedak, tapi di kulit tidak terasa kering sama sekali. Kulit jadi halus dan terhidrasi. 

Mainan baru

Rumput laut yang saya gunakan adalah rumput laut yang biasa dipakai sebagai bahan es campur, itu lho.. yang warnanya putih.  Rumput laut ini jenisnya Eucheuma cottonii. Aslinya di laut dia tidak berwarna putih, melainkan hijau atau kecoklatan. Selama proses pengeringan, klorofilnya hilang sehingga saat direndam warnanya menjadi putih bening.


Bentuk asli Eucheuma cottonii

Ada yang hijau, ada yang coklat
Dua gambar di atas berasal dari sini

Pengeringan dengan cahaya matahari menghilangkan klorofilnya

Nanti jadinya seperti ini, inilah rumput laut yang biasa kita konsumsi

Eucheuma cottonii mengandung vitamin E, A, C, B kompleks, asam amino, dan mineral (kalsium, zat besi, magnesium, fosfor, natrium). Juga mengandung antioksidan, antibakterial, dan kolagen (sumber). Menurut sumber ini, manfaat rumput laut Eucheuma cottonii  untuk kulit yaitu : 
  • melembabkan dan mencerahkan kulit
  • mengurangi kerut dan flek
  • mengontrol produksi sebum
  • bersifat sebagai anti inflamasi (anti peradangan)
Eucheuma cottonii juga mempercepat penyembuhan luka. Menurut hasil penelitian di artikel ini, ekstrak Eucheuma cottonii menyembuhkan luka lebih baik daripada madu.

Manfaatnya keren banget ya.. Nah, makanya saya tertarik untuk membuat moisturizer dari rumput laut Eucheuma cottonii. Beginilah caranya..

1. Siapkan rumput laut. Saya beli di supermarket, wujudnya sudah basah dan kenyal pertanda sudah direndam oleh pabriknya. Tapi tetap harus dicuci lagi lho, supaya yakin bersihnya.. 

Yang saya pakai nggak sebanyak ini kok, cuma seperempatnya
Kan saya juga pingin bikin es campur, hehehe..

2. Masukkan ke panci, tambahkan air sampai seluruh rumput laut terendam. Rebus hingga mendidih.

Usahakan rumput lautnya terendam

Rebus hingga mendidih

3. Setelah mendidih, angkat dari kompor. Biarkan sampai panasnya berkurang (agak hangat). Air rebusan dan rumput lautnya diblender.


4. Tempatkan ke dalam wadah. Saya sarankan wadahnya adalah jar, bukan botol seperti ini soalnya nanti akan mengental. Jar plastik nggak apa-apa, karena ini bukan produk fermentasi. 
Saya taruh di botol karena ternyata kebanyakan bikinnya, tapi nggak punya jar yang cukup untuk menyimpannya. Wadah bekas lulur kayaknya sih muat, tapi saya nggak punya.

Taruh di jar, jangan di botol kayak punya saya
Repot nanti kalo mau pakai

5. Biarkan dulu sampai dingin. Setelah dingin, tutup rapat lalu masukkan ke kulkas. Tanpa bahan pengawet bisa tahan kurang lebih 1 minggu. Terpaksa saya kasih pengawet makanan natrium benzoat soalnya banyak banget nih jadinya, nggak yakin bisa habis dalam 1 minggu. Makanya bikin dikit aja ya teman-teman, jangan kayak saya..

Biarkan dingin, lalu tutup rapat dan masukkan ke kulkas

Kalo pakai natrium benzoat bisa sampai 1 bulan, tapi dosis penambahannya maksimal 0,5% aja. Saya sih nggak sampai 0,5% kayaknya, hehehe.. Untuk produk kosmetik semacam toner dan moisturizer, batas aman yang diperbolehkan adalah 0,5% (sumber). Pemakaian kosmetik yang mengandung natrium benzoat nggak boleh dibarengi dengan kosmetik yang mengandung vitamin C dan E konsentrasi tinggi (vitamin C dan E sebagai bahan utama) karena akan bereaksi membentuk benzene yang bersifat karsinogenik.

Natrium benzoat yang saya pakai cuma seujung sendok teh untuk adonan sebanyak tadi
Dicampurkan waktu wujudnya masih cair, belum jadi gel

Nah, kalo udah masuk kulkas, bentuknya akan berubah jadi gel. Persis kayak minuman jelly gitu, kenyal-kenyal menggemaskan (?)

Sekali lagi saya ingatkan, jangan disimpan di botol atau nasib Anda akan seperti saya
Susah ngambilnya, sumpah deh nggak bohong

Bentuknya gel, ya memang semi padat begini..

Rumput laut Eucheuma cottonii dimanfaatkan oleh industri kosmetik untuk menghasilkan carrageenan. Fungsinya adalah sebagai emulsifier, pengental, pengikat, dan penstabil dalam kosmetik (sumber),dan pembuat gel. Saya pernah membaca bahwa carrageenan bersifat komedogenik, misalnya di website ini

Carrageenan itu bukan rumput laut secara keseluruhan lho, melainkan hanya polisakarida (karbohidrat kompleks) yang diekstrak dari rumput laut, sudah tidak mengandung berbagai zat aktif yang biasa terdapat dalam rumput laut utuh. Proses ekstraksinya saja menggunakan bahan kimia (KCl atau alkohol) (sumber).

Carrageenan disebut sebagai bahan comedogenic, namun rumput laut asli justru mampu mengontrol sebum & mengurangi peradangan pada jerawat. Jadi teman-teman yang kulitnya oily nggak usah takut memakai rumput laut di wajah.

REVIEW

Tekstur

Seperti yang bisa dilihat, teksturnya gel. Licin jika dioleskan ke kulit, ketika akan meresap rasanya lengket, tapi begiu meresap hasilnya matte. Untuk yang kulitnya kering seperti saya, agak kurang suka saat gelnya baru meresap karena rasanya kulit agak kaku. Lama-kelamaan perasaan kaku itu hilang, digantikan dengan kesan smooth dan kulit lebih elastis. 

Gel semi padat

Dibaurkan jadi licin

Begitu meresap hasilnya smooth meskipun ada perasaan kaku di awal
Seperti jika kulit terkena adonan agar-agar

Finishing

Matte, hasilnya seperti memakai bedak, tanpa kilap. Saya coba pakai krim sunblock Parasol setelah gel ini. Hasilnya masih matte aja, wow! Saya coba nggak pakai bedak atau tepung maizena setelah sunblock, saya bawa beraktivitas selama 4 jam. Alhasil, setelah 4 jam kilap mulai muncul di hidung.

Btw kulit saya ini super kering ya.. tapi jika pakai sunblock Parasol aja pasti ada kilap seperti minyak. Makanya biasa saya setting dengan tepung maizena, biasanya sih tahan seharian tanpa kilap (cerita lengkapnya di sini). Saya coba tidak pakai maizena selama 4 jam ini. Ternyata kilapnya si sunblock baru muncul setelah 4 jam, itupun cuma di hidung. Kalo kayak gini, rasanya saya nggak butuh bedak lagi.. hehehe

Saya simpulkan oil controlnya memang bagus. Cocok buat teman-teman yang berkulit oily.

Menurut saya finishingnya kayak pakai Gizi Super Cream. Tapi kata temen saya hasilnya kayak pakai The Body Shop Mattifying Day Cream. Hmm.. masak sih? Tapi saya cuma angguk-angguk aja deh, soalnya belum pernah pakai yang dari TBS.

seawood-mattifying-day-cream-body-shop-4
Kata dia sih hasilnya sama dengan krim ini, biayanya beda jauh
Saya keluar 4 ribu doang buat beli rumput laut, hahaha..

Efek pada kulit saat pemakaian

Tidak ada purging, tidak ada breakout, tidak ada iritasi atau alergi di muka saya. Aman-aman aja sih. Tidak muncul komedo baru.

Selain matte, kulit jadi lebih elastis. Lembab sih enggak ya.. lembabnya baru terasa jika kita cuci muka pakai air dan gelnya menghilang. Makanya saya buat maskeran juga gel ini *biar cepet habis juga sih hehehe*. Dioleskan tebal ke kulit, tunggu kering & meresap (20-30 menit), lalu bilas dengan air. Wow, rasanya kepingin cubit-cubit pipi sendiri setelah itu.. kulit jadi kenyal dan lembab. Cobain sendiri lah..

(+) ringan di kulit, cepat meresap
(+) efeknya mattifying
(+) membuat kulit terasa halus dan kenyal, apalagi jika dijadikan masker
(+) oil control bagus
(+) tidak ada reaksi aneh-aneh di kulit saya (tidak breakout, tidak iritasi atau alergi, tidak menyebabkan komedo)
(+) lumayan lah masa simpannya (1 minggu tanpa pengawet) karena sudah direbus sampai mendidih & masuk kulkas. Jika dengan natrium benzoat kira-kira bisa tahan sampai 1 bulan.

(-) repot (namanya juga homemade cosmetics)
(-) waktu pertama dioles rasanya licin, awal-awal meresap agak kaku di kulit
(-) untuk kulit super kering, kelembabannya tidak terasa saat dipakai, tapi sebenarnya sangat melembabkan kulit. Terasa banget kalo habis cuci muka

Bikin lagi? Iya, bulan depan hehehe *masih banyak nih*
Recommended? Ya, untuk semua jenis kulit terutama yang kulitnya oily dan ingin membuat kosmetik anti aging alami

Pembuktian di muka saya..

Cuma pakai :
homemade seaweed moisturizer gel
Viva Chic on Lips strawberry  (sunscreen lip balm)

Lalu saya bawa pergi muter-muter dari kampus, rumah dosen, sampai akhirnya pulang. Nggak pakai makeup dan saya masih pede aja (emang dasarnya kepedean). Menurut saya, perempuan itu harus pede dengan mukanya sendiri walaupun tanpa makeup, yang penting dirawat dan dilindungi dengan skincare supaya tetap sehat.

Empat jam kemudian mengkilap di bagian hidung aja

Sekian resep dan review dari saya. Semoga bermanfaat ya..




Minggu, 25 Mei 2014

Produk Favorit dari Kepala sampai Kaki

Halo!


Kali ini saya mau share soal produk favorit untuk rambut, muka dan seluruh badan. Mungkin isi post ini sudah basi karena hampir semuanya pernah saya review hehehe.. Nggak apa-apa deh, karena produk favorit itu bisa aja berubah dari waktu ke waktu. Yang belum direview sekalian saya review di sini.



HAIR


1. Kodomo Foaming Shampoo (Strawberry)

Ya betul, ini shampoo anak-anak. Saya sudah pakai selama 2 minggu dan suka banget! Awalnya saya beli shampoo ini untuk memandikan kelinci, eh tapi ternyata malah saya pakai. Soalnya enak sih, busanya itu lho.. padat dan melimpah ruah! Shampoo ini juga udah mengandung conditioner, nggak usah repot-repot pakai conditioner lagi sesudah keramas.

Yang bagus lagi, shampoo ini bebas SLS (sodium lauryl sulfate) dan silikon. SLS adalah surfaktan (pembuat busa) yang sifatnya adalah irritant, dapat menyebabkan kulit kering (dalam hal ini kulit kepala) apabila digunakan berlebihan (keramas terlalu sering).

Silikon yang dipakai dalam shampoo ada 2 macam, yaitu larut air dan tak larut air. Silikon yang larut air adalah Dimethicone Copolyol, Lauryl Methicone Copolyol, Hydrolyzed wheat protein (Hydroxypropyl Polysiloxane), semua silikon dengan awalan PEG. Silikon yang tak larut air jenisnya lebih banyak, yaitu Trimethylsilylamodimetheicone, Dimethicone, Phenyl Trimethicone, Cetearyl Methicone, Dimethiconol, Amodimethicon, Stearyl Dimethicone, Cyclomethicone, Cetyl Dimethicone, Cyclopentasiloxane, Behenoxy Dimethicone, Stearoxy Dimethicone (sumber)

Silikon tak larut air melapisi rambut sehingga menyebabkan kelembaban, protein, dan nutrien lainnya sulit menyerap ke dalam batang rambut. Wah sia-sia dong kalo kita rajin ngasih vitamin rambut, tapi ada penghalangnya?

Saya ini termasuk orang yang harus keramas tiap hari. Di jalan banyak debu, soalnya jalan utama menuju komplek perumahan saya dilewati truk pengangkut tanah. Ngeri banget kalo nggak keramas sehari aja. Tapi SLS dan silikon tak larut air dalam shampoo nggak baik untuk rambut, makanya saya pakai Kodomo ini.

Ingredients : water, sodium laureth sulfate (SLES), sodium cocoamphopropionate, alcohol, hexylene glycol, cocamine oxide, polyquaternium-10, panthenol (pro vitamin B5), perfume, sodium benzoate, citric acid, etidronic acid

See? Bebas SLS dan aneka silikon. Ingredientsnya simpel dibandingkan shampoo orang dewasa. 

Walaupun namanya mirip, SLES berbeda dengan SLS. SLES adalah surfaktan yang lebih lembut dan non irritant. Sodium cocoamphopropionate juga surfaktan yang lembut. Hexylene glycol adalah pelarut, pelembab dan surfaktan, berpotensi menyebabkan iritasi ringan. Busanya melimpah ruah karena ada cocamine oxide yang sifatnya foam booster dan sebagai conditioner. Polyquaternium-10 bersifat melembutkan rambut. Citric acid mengatur pH. Etidronic acid mengikat dan menetralkan berbagai komponen logam yang mungkin terdapat dalam produk. Pengawet yang digunakan dalam shampoo ini adalah pengawet makanan sodium benzoate (natrium benzoat). 

Biarpun shampoo anak-anak, daya bersihnya oke, 3-4 kali pompa bisa dipakai untuk membersihkan rambut dan seluruh kulit kepala saya. Padahal rambut saya nggak pendek-pendek amat lho sekarang. Busanya memang super banyak, tapi nggak butuh banyak air untuk membersihkannya karena ini bebas silikon. Semakin banyak silikon di shampoo biasanya semakin licin efeknya sehingga harus dibilas dengan banyak air.

Nggak pedih di mata juga, bagus deh untuk anak-anak kecil. Setelah dibilas, rambut rasanya lembut dan mudah disisir, seperti habis creambath *tidak bermaksud iklan*. Pokoknya rasanya kayak habis pakai conditioner. Wanginya saya suka banget, strawberry yang segar. 

Yang tidak saya suka hanya kemasannya. Apa nggak ada yang bentuk botol biasa? Atau sachet? Saya kurang suka membawa-bawa botol pump yang bantet ini untuk travelling.

Oya, harganya sekitar 9 ribu isi 180 ml, saya belinya di Super Indo, semua supermarket pasti jual. Murah banget kan? Shampoo orang dewasa biasanya lebih mahal, padahal ada SLS dan silikonnya.

Shampoo ini recommended banget untuk anak-anak, juga untuk orang dewasa yang mencari shampoo bebas SLS & silikon dengan harga terjangkau.  Pastinya saya akan beli lagi, pingin yang wangi jeruk.

2. Glazelle de Pucelle Hair Fragrance

Botol kedua yang saya beli. Produk ini sudah saya review di sini. Harganya sekitar 13 ribu isi 100 ml, beli di Alfamart. Sebenarnya saya kurang suka pakai parfum rambut karena mengganggu wangi shampoo, saya cuma butuh sunscreennya aja. Parfum rambut ini mengandung sunscreen (benzophenone-2, benzophenone-3).

BODY


1. Biore Body Foam Daily Antiseptic Plus

Saya suka mandi pakai sabun kesehatan karena rasanya lebih bersih. Oke banget untuk mencegah masalah kulit seperti biang keringat, jerawat punggung, gatal-gatal. Biore memang sabun kesehatan, tapi menurut saya lembut di kulit, nggak langsung bikin kulit saya kering dan kasar sehabis mandi. Malah lebih lembut daripada beberapa beberapa merek sabun kecantikan yang pernah saya coba.

Ingredients : water, lauric acid, potassium hydroxide, myristic acid, lauryl hydroxysultaine, glycol distearate, fragrance, palmitic acid, laureth-4 carboxylic acid, sodium chloride, sodium laureth sulfate, hydroxyethylcellulose, triclosan, etidronic acid, benzalkonium chloride, tetrasodium EDTA

Bebas SLS juga, good. Surfaktan yang ada dalam sabun ini adalah myristic acid (sifatnya lumayan bikin kering),  lauryl hydroxysultaine dan sodium laureth sulfate/SLES yang lembut dan non irritant. Lauric acid dan palmitic acid yang memberikan tesktur creamy pada sabun cair juga bisa menyebabkan kulit kering jika terlalu banyak. 

Sabun memerlukan bahan penyebab saponifikasi (membersihkan minyak/lemak). Sabun cair biasanya menggunakan potassium hydroxide (KOH) seperti Biore ini, sedangkan sabun batang menggunakan sodium hydroxide (NaOH). Pengental yang digunakan adalah sodium chloride (NaCl alias garam dapur) dan hydroxyethylcellulose. Tetrasodium EDTA dan etidronic acid mengikat ion logam dan menonaktifkannya. 

Benzalkonium chloride adalah anti mikroba (bakteri, jamur) yang juga sebagai pengawet, sifatnya bisa menyebabkan iritasi. Triclosan merupakan anti bakteri yang penting dalam sabun kesehatan.

Seperti sabun kesehatan pada umumnya, wanginya aroma "obat" atau zat antiseptik. Tapi saya suka, wanginya meyakinkan sebagai sabun kesehatan.

Busanya banyak dan lumayan padat apalagi jika diaplikasikan dengan spons. Setelah dibilas nggak licin, nggak boros air juga. Nggak bikin kulit saya kering setelah mandi. Tapi kata teman-teman saya, Biore bikin kulit mereka kering. Tergantung ketahanan kulit masing-masing orang sih ya.. Dari balita saya sudah terbiasa memakai sabun kesehatan segala merek.

Harganya berapa? Yang botol saya lupa, tapi kalo refillnya yang 250 ml harganya 9500. Banyak banget tuh, dimasukkan ke botol ini nggak muat karena botolnya volume 100 ml aja.

Recommended sebagai sabun kesehatan untuk seluruh keluarga. 

2. Herborist Daily Feminine Wash

Pernah saya review di sini. Menurut saya sabun pembersih daerah kewanitaan itu penting, apalagi yang ada tulisan pH 3,5 (sesuai pH daerah kewanitaan). Tapi jangan digunakan berlebihan, dan hanya dipakai di luar, jangan sampai masuk ke dalam. Saya pakai pembersih semacam ini hanya 1 kali sehari, nggak terlalu sering. Daripada dibersihkan pakai sabun mandi biasa, pHnya kan nggak sesuai, bisa bahaya. Daerah kewanitaan yang nggak dibersihkan dengan baik bisa bermasalah, tapi jika dibersihkan secara berlebihan juga akan bermasalah (bahkan bisa meningkatkan resiko kena kanker serviks, ngeri kan..)

Harganya sekarang sekitar 8000an isi 80 ml.

3. Homemade Body Toner Spray

Saya lebih suka pakai ini daripada hand body lotion, soalnya teksturnya ringan dan nggak lengket, tinggal semprot. Kemampuan melembabkannya semakin maksimal jika cuaca panas dan lembab karena mengandung gliserin. Cara membuatnya pun gampang, bisa dilihat di post ini

4. Vaseline Healthy Sunblock

Sunblock andalan saya. Entah sudah repurchase berapa botol. Harganya 29.500 isi 100 ml. Gimana nggak andalan? Harganya terjangkau, gampang dicari (saya beli di Indomaret), water resistant, SPF 30 & broad spectrum sunscreen PA++. Kekurangannya agak lengket, agak sulit diblend (pastikan kulit dilap, bebas dari air dan keringat), dan meninggalkan white cast yang benar-benar terlihat. Baunya seperti obat. 

Review lengkapnya dapat dibaca di sini.

FACE

Skincare


1. Dee-dee children facial wash

Facial wash anak-anak yang bebas SLS, mengandung protein susu sehingga cocok untuk kulit saya yang tipenya kering. Biarpun formulanya lembut, saya nggak memakai facial wash ini sering-sering. Maksimal 1 kali sehari setelah pergi, terutama untuk membersihkan krim sunblock dari muka. Jika cuma di rumah, saat bangun pagi & sebelum tidur, saya cuma cuci muka pakai air. 

Harganya 13.500 isi 100 gram. Review komplitnya ada di sini.

2. Homemade Saccharomyces Toner

Toner yang gampang banget cara membuatnya, bisa dibaca di post ini. Saya awetkan pakai natrium benzoat (pengawet makanan) soalnya males bikin setiap 3 hari hehehe.. Toner ini saya pakai setiap habis cuci muka. Juga sebagai penyegar setelah membersihkan makeup dengan minyak kelapa.

Jika kulit muka benar-benar kering, efek pemakaian pertama sangat mengesankan karena rasanya lembab banget. Selanjutnya memang biasa aja karena kulit sudah terhidrasi, soalnya Saccharomyces memang menstimulasi pembentukan hyaluronic acid alami dalam kulit sehingga meningkatkan daya ikat air. Saya suka pakai toner ini secara single use, nggak diikuti dengan moisturizer pabrikan atau minyak sebagai pelembab. Kulit muka saya sekarang nggak retak-retak lagi, nggak ada dry patch. Kadar airnya merata, tapi minyak juga nggak ada. Menyenangkan sekali. 

3. Coconut oil

Sebelum ada ide untuk bikin toner Saccharomyces, minyak kelapa saya pakai sebagai pelembab di seluruh muka, walaupun efek lembabnya nggak benar-benar manjur. Jika lupa reapply, pasti muka saya kering lagi. Iya lah, cuma lapisan luarnya aja yang dikasih minyak, sel-sel kulitnya yang di dalam tetap kekurangan air.

Sekarang pelembab saya di siang hari cuma toner Saccharomyces, si minyak kelapa saya pakai sebelum tidur aja, di sekitar mata. Katanya bagus untuk pengganti eye cream & bisa merangsang pertumbuhan bulu mata & alis (penting, soalnya bulu mata saya pendek & alis saya asli nyaris botak). Minyak kelapa juga saya pakai sebagai pelembab bibir dan makeup remover. Teksturnya ringan, saya lebih suka minyak kelapa daripada extra virgin olive oil. 

Harganya juga murah, di bawah 30 ribu per liter, beli di supermarket bagian minyak goreng. Minyak kelapa untuk minyak goreng itu jenisnya refined coconut oil, disebut juga RBD (refined, bleached, deodorized). Nggak ada aromanya, bening, nggak  terlalu kental. Sebetulnya mungkin lebih baik VCO (virgin coconut oil), tapi VCO mahal banget karena merupakan obat herbal. Lagipula coconut oil yang banyak digunakan dalam industri kosmetik adalah yang RBD karena lebih irit biaya produksi.

4. Sunblock Parasol

Sunblock andalan, nggak bisa pindah ke merek lain. Harga terjangkau, 36.000 isi 20 gram. Saya suka karena ingredientsnya simpel, bisa melembabkan dan menjadi alas makeup yang baik (bukan foundation lho ya). Sudah saya review di sini.

Makeup


1. Marcks Venus Compact Powder (invisible)

Sudah saya review di sini. Bedak padat ini cukup ringan, halus, dan nggak cakey, tapi cuma saya pakai jika pergi di sore/malam hari. Jika udah pakai sunblock, rasanya agak berat dilapisi compact powder. Kulit saya itu nggak suka dilapisi bermacam-macam produk yang banyak bahan kimianya. Bedak padat Marcks Venus ini sebetulnya ingredientsnya simpel. Mengandung salicylic acid yang baik untuk kulit berminyak. Nah karena ada salicylic acid nya itu saya jadi nggak berani pakai sering-sering, bikin kering.

Harganya 30 ribuan beserta tempatnya. Refill sekitar 20 ribu.

2. Tepung maizena

Jangan kaget, saya memang pakai tepung maizena sebagai bedak. Tempatnya boleh tempat bedak beneran, tapi isinya tepung asli hehehe.. Tepung maizena bagus untuk menyerap minyak dan mencegah kilap dari sunblock. Saya sudah pernah cerita di sini. Bedak yang terbuat dari tepung maizena alias tepung jagung (corn starch) jauh lebih aman daripada talc, alasannya bisa dibaca di post ini.

3. Lip balm Viva Chic on Lips Aloe Secret

Produk barunya Viva, harganya nggak jauh dari 10 ribu. Biarpun murah, lip balm ini menurut saya bagus. Nggak terasa tebal di bibir, wanginya nggak berlebihan, melembabkan dan melembutkan bibir. Tapi nggak ada sunscreennya. Sudah saya review di sini.

4. Mirabella Colorfix Lipstick no 70

Lipstik merah terfavorit! Matte tapi sama sekali nggak bikin kering, warnanya soft & teksturnya seperti menyatu dengan bibir, staying power oke. Harganya 41 ribu, sayang isinya sedikit cuma 2,5 gram. Reviewnya di sini

5. Mascara Pixy

Suka bentuk aplikatornya yang langsing & bisa menjangkau sudut mata dan bulu mata bawah. Efek menebalkan & memanjangkan bulu mata terlihat alami, nggak terlalu dramatis tapi saya suka, bisa dipakai untuk sehari-hari. Waterproof, hilangnya kalo saya gosok pakai minyak kelapa atau facial wash. Harganya 30 ribuan.

6. Eyeliner My Darling

Harganya fantastis, 12 ribu isi 9 ml tapi dijamin aman. Kuasnya lentur dan tangkainya kepanjangan, agak susah sih dipakai. Saya suka eyeliner ini karena efeknya matte, mudah dibersihkan, dan kuasnya kecil. Biasa saya pakai untuk tightline karena saya nggak suka kelihatan memakai eyeliner. Reviewnya di sini.

7. Pensil Alis Wardah (hitam)

Saya suka karena hasilnya alami, nggak membuat wajah terlihat garang meskipun warna pensilnya hitam. Ada brush nya, praktis. Harga sekitar 29 ribu. Review di sini.

8. Blush on Red A seri B

Yang saya sering pakai cuma warna pink pucatnya, soalnya itu paling cocok di pipi saya. Harga 17 ribuan, review ada di sini

9. Eyeshadow Pixy (Sorrel Brown)

Ini eyeshadow yang paling sering saya pakai untuk harian. Coklat tuanya matte, warnanya cukup keluar tapi nggak terlalu dahsyat sehingga nggak kelihatan mencolok. Sebagai goth, saya suka eyeshadow gelap tapi tentu saja di kampus saya nggak mau kelihatan seperti Deddy Corbuzier. Eyeshadow hitam terlihat berlebihan untuk ke kampus, jadi saya pilih coklat tua. Lumayan untuk meningkatkan aura angker, hehehe.. 

Yang peach juga warnanya cantik banget, soft. Shimmernya halus banget, efeknya pearly. Cuma mengkilat aja, tapi nggak terlihat blink-blink. Sayang eyeshadow Pixy isinya cuma 2 warna, coba 4 hehehe.. Harganya terjangkau, 24 ribu. Yang saya nggak suka, kemasannya tidak kokoh. Nih punya saya udah copot tutupnya.

Oya satu lagi, ini benar-benar untuk head to toe. Suplemen makanan!


Charmant Fish Oil

Di kemasannya ada gambar hiu, tapi saya nggak yakin ini minyak hiu. Mungkin cuma tuna atau ikan cod, soalnya harganya murah, 39 ribu isi 30 soft capsule. Minyak hiu kan mahal.

Tiap kapsul mengandung 1000 mg minyak ikan dengan kandungan omega 3 sebesar 180 mg, vitamin E 5 IU. Aturan minumnya 1 kapsul sehari, sebelum makan atau sebelum tidur.

Saya suka karena dosisnya pas, nggak perlu takut overdosis. Dosis omega 3 yang diperbolehkan untuk orang dewasa hanya 1,6 g per hari sedangkan vitamin E 22,4 IU. Saya kan sudah mendapat asupan omega 3 dan vitamin E dari makanan, jadi tidak perlu suplemen yang dosisnya tinggi.

Manfaat suplemen omega 3 dan vitamin E beserta akibat overdosisnya sudah saya tulis di sini.

Hmm.. sekarang pasang foto dulu ah

Sebelum dandan, belum pakai skincare juga

Sesudah

Ini penampakan kondisi kulitnya

Bekas jerawat belum hilang, tapi kulit saya udah nggak dehidrasi berkat toner Saccharomyces

Tanpa coverage. Base nya hanya sunblock dan tepung maizena, bukan bedak

Sekian dulu. Makasih untuk kalian yang sudah membaca tulisan panjang ini.


Jumat, 23 Mei 2014

Yuk Pakai Produk Lokal!

Hello beautiful readers!

Siapapun yang mampir ke blog saya pasti menyadari, saya suka mereview produk kosmetik lokal. Memang sudah sering saya jabarkan, saya suka produk lokal karena harganya murah dan mudah ditemukan, saya kan nggak suka belanja online. 

Sekarang sedang ngetrend belanja kosmetik luar secara online

Ribet ah, harus nunggu beberapa hari atau minggu padahal sudah kepingin banget mencicipi (?) si produk idaman. Belum lagi khawatir soal tipu-tipu, saya ini orangnya susah percaya sama orang lain -- apalagi untuk urusan yang menyangkut duit dan keamanan produk. Gimana kalo nanti saya udah bayar dengan harga mahal tapi ternyata yang saya terima adalah barang palsu yang keamanannya nggak dijamin? Zonk banget nggak tuh..

Saya orangnya paranoid terhadap cyber crime dan segala jenis tipu-tipu

Biarpun banyak orang udah merekomendasikan online shop langganan mereka yang katanya terpercaya, saya tetap tidak terpengaruh. Dibilang kurang update, nggak gaul hari gini nggak belanja online bla bla bla.. ya biarin aja. Ibu saya juga tidak mengijinkan saya untuk belanja online. Katanya nanti bisa kebiasaan dan kebablasan. Order ini itu tanpa dipikir, tanpa cek tester, terus akhirnya tergeletak tidak terpakai karena nggak cocok. Paling sial kalo nggak cocok dengan barang yang mahal, padahal untuk belinya udah menguras tabungan. Ibu saya benar.

Pecinta fanatik produk luar seringkali underestimate terhadap produk lokal. Tapi nggak semua lho, hanya yang benar-benar fanatik. Kan banyak juga pecinta produk luar yang tetap suka produk Indonesia. Kenapa sih mereka underestimate produk negeri sendiri? Dari yang saya baca, ada beberapa alasannya, antara lain :

1. Packaging

Perempuan biasanya banci packaging. Siapa yang nggak suka melihat produk yang dikemas dengan menarik? Para pecinta produk luar umumnya melihat produk lokal memiliki kemasan yang tidak unyu dan tidak luxurious. Kemasannya jelek, murahan, rapuh, dll. Ya memang produk lokal bisanya bikin kemasan yang begitu, supaya bisa dijual murah. 

Produk lokal satu ini kemasannya hampir selalu dikomplain oleh para beauty blogger

Mereka ingin kemasan yang seperti ini

Seandainya produk lokal kemasannya seperti ini pasti harganya naik berkali-kali lipat

Seandainya kemasannya dibuat yang bagus dari bahan berkualitas, saya yakin harga jualnya akan naik drastis dan malah tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Gimanapun juga itu nggak mungkin, Indonesia kan negara berkembang, daya beli masyarakatnya nggak setinggi negara maju. Banyak orang masih mikir-mikir untuk beli kosmetik, kebutuhan yang lain aja banyak..

2. Kualitas aplikator bawaannya

Blush on dan eyeshadow lokal sering dibilang aplikatornya jelek, kecil, kasar, nggak nyaman dipakai. Spons bedak tipis, kasar seperti handuk dsb. Balik lagi ke masalah harga. Aplikator bagus yang diberikan secara cuma-cuma pasti memerlukan biaya besar. 

Spons gratisan dari bedak lokal biasanya begini

Brush bawaan dari blush on lokal umumnya kecil dan nggak lembut

Banyak orang yang menggerutu "Mending nggak usah ada, daripada ngasih gratis tapi nggak mutu!"

Hmm.. tapi nggak semua orang menyiapkan anggaran khusus untuk beli makeup tools lho. Saya yakin para beauty blogger punya makeup tools yang bagus, tapi banyak sekali perempuan Indonesia tidak punya. Aplikator gratisan pun nggak masalah, yang penting bisa dipakai untuk memoles makeup.

Saya juga termasuk orang yang pernah mengeluh soal packaging dan aplikator bawaan produk lokal, makanya saya bikin post ini untuk menginsyafkan diri sendiri hehehe..

3. Aroma

Beberapa produk lokal punya aroma yang katanya mengganggu. Merek yang paling sering dikomplain adalah Viva dan Fanbo. Banyak yang bilang wanginya nyegrak, jadul, murahan dll pokoknya yang jelek-jelek. Saya rasa aroma seperti itu adalah ciri khas retro yang menjadi trade mark mereka, hehehe..

Wangi bunga memang menyenangkan, tapi kalo terlalu strong jadinya tidak enak

Tapi keluhan konsumen ada baiknya didengarkan. Parfum dalam kosmetik tidak selamanya baik, bahkan banyak orang yang kulitnya sensitif terhadap parfum.

4. Coverage 

Coverage yang dimiliki makeup penting bagi para makeupnista yang wajahnya nggak flawless. Kebanyakan pecinta fanatik makeup luar meyakini bahwa concealer, foundation, BB cream dan bedak lokal tidak sebagus merek luar. 

Pasti pada tau video Cassandra Bankson tentang makeup untuk menutupi jerawat
 Banyak yang suka merek makeup yang dia pakai

5. Anggapan "Ada harga, ada kualitas"

Yang mahal pasti lebih bagus, itu anggapan sebagian besar orang. Nggak selamanya begitu lho. Mereka yang terbiasa memakai produk luar dan nggak pernah pakai produk lokal pasti ketinggalan info ini, hihihi..

Beberapa temen saya suka mengoleksi makeup walaupun mereka nggak punya blog. Makeupnya macam-macam, dari yang lokal & murah sampai yang mahal. Salah satu temen saya bilang "Lipstik Yves Saint Laurent Rouge Volupte teksturnya mirip Sariayu lho! Warnanya yang nggak jauh beda. Tapi menurutku malah bagusan Sariayu."

 
YSL dan Sariayu, saat dipakai temen saya terlihat sama saja, tapi kata dia bagusan Sariayu
sumber 12

Saya sih cuma angguk-angguk aja, soalnya belum pernah pakai lipstik YSL -- nggak bisa agree atau disagree dengan dia. Dan masih banyak lagi produk lokal yang dia bandingkan dengan produk luar. Saat dia pakai makeup lokal, saya pikir itu makeup luar, nggak bakal tau itu merek lokal kalo dia nggak bilang sendiri. Intinya satu : produk lokal banyak yang bagus, nggak kalah dengan produk luar.

Untuk skincare pun begitu. Saya pernah membaca suatu blog yang berjuang mengatasi jerawat dengan berbagai produk luar : Clinique Acne Solution, Murad Acne Complex, dll (saya lupa apa aja, lupa juga blog siapa). Ujung-ujungnya sembuh karena pakai Bless Acne Series yang meliputi skincare, foundation, dan bedaknya. Pasti banyak yang tau, Bless ini produk lokal yang diprakarsai oleh seorang dokter Sp.KK.


6. Pengalaman buruk yang tidak diketahui pasti penyebabnya

Suatu ketika saya blogwalking, saya menemukan komentar yang cukup lucu dari seorang pembaca blog itu.

"Aku ga berani pake foundie & bedak lokal gara2 dandan di salon pas acara nikahan saudara. Hasil makeupnya tebel banget, mana harus ditahan dari pagi sampai malam, trus besoknya aku breakout parah. Sejak itu big no no pake merek lokal."

Si pemilik blog dengan kalem menjawab "Nggak cocok aja kali. Nggak semua merek lokal begitu."

Kenapa saya bilang commentnya lucu? Pertama, dia bilang breakoutnya gara-gara dandan di salon. Nah, kita semua paham, peralatan salon itu dipakai untuk umum. Siapa yang menjamin makeup tools di salon itu higienis? Siapa yang mengamati tanggal expired di kemasan makeup salon? 

Peralatan dan bahan yang ada di salon dipakai oleh umum, nggak jaminan higienis

Kedua, dia bilang makeup itu dipakai dari pagi sampai malam. Siapa aja juga ngerti, makeup berat yang dipakai terlalu lama tentu aja menyebabkan pori-pori tersumbat. Ketiga, dandanannya tebal. Saya pingin tau, gimana usaha dia untuk membersihkan muka dari berlapis-lapis makeup itu. Udah cukup bersih atau belum, mungkin aja masih ada yang tersisa di wajahnya. 

Jadi tidak berlebihan kalo saya bilang comment orang ini lucu. Lha penyebab breakoutnya masih belum jelas kok malah menyalahkan merek lokal.

7. Gengsi

"Ortu atau suami kaya raya, masak kosmetik kita merek lokal yang murah? Gengsi dong!" begitu pemikiran beberapa wanita yang berasal dari keluarga kaya. Hihihi.. ya nggak apa-apa sih mau beli kosmetik impor yang mahal, kan itu duit mereka (meskipun mungkin dari ortu atau suami).

Mereka beli produk luar karena gengsi? Biarin aja.. toh belinya pakai duit mereka, mereka juga udah bayar pajak. Kita nggak usah ribut, nanti dikira sirik, hihihi..

Suka produk luar yang mahal-mahal dan luxurious boleh kok, kan pajaknya udah masuk ke kas negara. Tapi jangan sampai menghujat merek lokal ya.. gimanapun juga kita ini orang Indonesia. Menghina produk sendiri berarti menghina karya anak bangsa -- secara tidak langsung menyatakan bahwa kalian malu dan benci menjadi orang Indonesia.

Patut dipertanyakan

Dan mungkin masih banyak alasan mengapa seseorang nggak suka pakai produk lokal. Masing-masing mungkin punya jawabannya.

Tapi saya sangat suka produk lokal. Alasan saya adalah :

1. Murah

Meskipun ada produk lokal yang mahal (bahkan lebih mahal dari beberapa produk luar), namun pada umumnya masih terjangkau oleh masyarakat Indonesia. Saya adalah tipikal masyarakat negara berkembang yang punya daya beli rendah, hehehe..

2. Gampang dicari dan tester pasti ada

Walaupun cuma dicoba di tangan, setidaknya kita tau bagaimana tekstur & warna aslinya

Meskipun tidak semuanya mudah dicari, setidaknya semua toko kosmetik di kota saya menyediakan berbagai macam produk lokal yang menurut saya oke. Tester pun disediakan, jadi kita tidak seperti beli kucing dalam karung.

3. Warnanya sesuai dengan kulit saya

Warna kulit saya seperti orang-orang di daerah tropis pada umumnya. Saya nggak akan cocok memakai BB cream dan bedak untuk wanita Asia Timur dan warna-warna makeup dekoratif mereka (blush on pink pucat, lip tint baby pink dll). Produk makeup Indonesia warnanya sudah pasti masuk untuk saya.

Warna kulit sawo matang khas Indonesia tidak cocok dengan BB cream yang warnanya seperti ini

4. Ingredients biasanya simpel 

Seringkali saya lihat di produk luar, ingredientsnya panjaaang sekali. Banyak bahan kimia yang sebenarnya nggak berguna untuk kulit, hanya berguna untuk produk itu sendiri. Misalnya untuk mencegah penggumpalan (semua kosmetik perlu anti gumpal, tapi macamnya lebih banyak dalam kosmetik negeri 4 musim), mencegah pembekuan dll. 

Cuma sunblock aja sepanjang ini ingredientsnya, btw ini sunblock luar dengan SPF 50

Produk dalam negeri jelas nggak perlu bahan anti beku. Ya kecuali perempuan Indonesia semuanya hobi menyimpan skincare & makeup di dalam freezer. 

Bahan-bahan tambahan yang nggak berguna bagi kulit justru akan menjadi tambahan radikal bebas yang mempercepat kerusakan sel kulit. Negara kita tingkat polusinya sudah parah (terutama di perkotaan). Udaranya aja udah mengandung banyak radikal bebas, masak masih mau ditambah lagi dari kosmetik?

Ada alasan mengapa kamu harus suka produk lokal :

1. Banyak merek lokal yang halal

Negara kita mayoritas penduduknya beragama Islam. Teman-teman muslimah seharusnya memakai produk yang halal. Sayang banget kan kalo ibadah sudah bagus, tapi kosmetik yang dipakai masih mengandung bahan yang haram? Kosmetik yang haram yaitu yang mengandung bahan-bahan yang berasal dari babi dan hewan lain yang diharamkan, hewan konsumsi yang tidak disembelih sesuai tradisi Islam, serta alkohol (sumber).

Contoh bahan-bahan yang haram antara lain :
  • pewarna Cl 77267 (bone charcoal/arang dari tulang hewan)
  • pewarna carmine/natural red 4/Cl 75470 / E120 (berasal dari ekstrak serangga Cochineal)
  • collagen, elastin (berasal dari jaringan hewan seperti kulit, tendon)
  • stearyl alcohol (dari lilin organ spermaceti pada paus/lumba-lumba)
  • hydrolyzed animal protein
  • silk powder (berasal dari sekresi ulat sutera, banyak terdapat dalam hair products)
  • tallow, stearic acid, glycerin, myristic acid (berasal lemak hewan, bisa sapi/domba/babi)
  • lanolin (dari kelenjar minyak hewan)
  • placenta
  • lendir siput
  • bisa ular
dan masih banyak lagi. Bisa dibaca di sini dan di sini.

Brand kosmetik lokal yang terkenal (bukan yang merek gajebo) sudah punya sertifikat halal dari MUI, bisa dilihat di kemasannya yang ada logo ini

Jika kalian melihat ingredients produk lokal yang sudah bersertifikat halal, mungkin masih bisa menemukan bahan seperti collagen, glycerin, stearic acid, stearyl alcohol, myristic acid, lanolin dsb. Jangan khawatir, jangan langsung berpikiran bahwa produsen kosmetik menyogok untuk dapat sertifikat halal *konyol*. Bahan-bahan itu bisa diperoleh dari tumbuhan atau bahan sintetik yang bebas turunan hewan.

Brand kosmetik lokal yang halal apa aja? Oh, banyak.. misalnya 
  • Wardah
  • Zoya
  • produk Martha Tilaar (Sariayu, Caring Colours, Mirabella, PAC)
  • La Tulipe, LT Pro
  • produk Mustika Ratu (Mustika Ratu, Mustika Puteri, Moors, Biocell, Taman Sari Royal's Heritage)
  • Viva, Red A
  • Biokos
  • Ristra
  • Rivera
  • Marcks Venus
  • Purbasari, Freya
  • Inez
Jika kalian memakai merek lokal di atas, nggak perlu ragu lagi dengan kehalalannya.

2. Kosmetik lokal dibuat sesuai iklim Indonesia

Saya udah membahas soal skincare yang sesuai untuk daerah tropis di post ini. Lalu bagaimana dengan makeup?


Pernah nggak kalian menyadari bahwa liquid foundation merek lokal umumnya lebih encer, sheer coverage, nggak bisa menyamarkan kekurangan kulit, cepat hilang -- pokoknya beda banget dengan liquid foundie luar. Ada tujuannya lho. Liquid foundation yang ringan dengan poor staying power tentunya tidak berat, masih memungkinkan kulit untuk bernafas bebas. Iklim kita panas dan lembab, maka liquid foundation dibuat seringan mungkin. Cream foundation lokal lebih baik coveragenya daripada varian liquidnya, tapi pastinya lebih berat.

Semoga post kali ini bermanfaat!


Yuk! Kamu orang Indonesia apa bukan?